"Ma, Dengarkan Alam Bernyanyi Deh! Hutan Bakau Bersuara Merdu"

Ma, Dengarkan Alam Bernyanyi Deh! Merdu

"Ma, aku mau lari-lari di sana"
"Iya, boleh"
"Asyik! Makasih ya, Ma!"
Setiap hari, anak-anak saya mungkin bukan seperti anak-anak kota lainnya yang berkutat dengan handphone atau mall. Iya, sekarang keadaannya beda. Anak-anak setiap hari main di pematang sawah dengan tidak pakai alas kaki sama sekali. Tadinya saya khawatir, perubahan ini akan membuat mereka tidak percaya diri. Namun saya salah, ternyata anak-anak menyukai hal-hal di sini.

Iya, saya sekarang tinggal di desa yang jauh dari riuhnya ibukota. Tenang, damai bahkan hampir terasing bahkan. Tapi ya mungkin takdir yang mengantarkan kami sekarang di sini. Ya kami semua dengan status berbeda, pekerjaan berbeda, sekolah berbeda, teman berbeda dan tentunya tanggung jawab yang berbeda. 

Dulu rasanya di kota besar sangat mudah mencari penghasilan halal dalam bentuk apapun. Di sini semua serba terbatas, mau menghasilkan apapun juga butuh berjuang. Ya sebenarnya mau dimanapun kan kudu berjuang ya beb! Hehehe

Tapi memang semua tidak bisa diukur dengan uang. Di sini kami bahagia dengan cara keluarga kami sendiri. Jadi ingat dulu saat tinggal di kota besar pasti saya selalu bilang sama suami kalau ingin melihat yang hijau-hijau. Kota besar yang penuh dengan gedung tinggi dan hanya ada pepohonan yang sengaja dibangun tidak menghilangkan sesaknya polusi di kota. Kalau ingin sedikit segar harus ke pinggiran kota dulu dan lumayan jauh. Karena area hijau luas di kota jarang, adapun wajib bayar dengan harga yang mahal. Ya lumayan kalau bawa rombongan keluarga kan sesuatu. Berat juga, masak untuk bahagiakan anak biayanya lumayan menguras kantong huhu. Berat!

Bermain di Alam Desa Pantai yang Menyenangkan


Tidak heran kalau saat pindah ke desa semua awalnya terasa menyegarkan. Tarik napas saja sudah sangat terasa bedanya dengan udara di kota. Di desa segar banget! Apalagi di sini daerah pantai dan sawah yang sangat asri, belum terlalu terjamah. Ya ada dari pemerintah memang tapi rasanya kurang masih dieksplorasi untuk dirawat. 

Di desa juga sekeliling rumah ada hamparan sawah yang setiap empat bulan sekali pasti panen. Kalau lagi musim panen, anak-anak langsung senang bermain dengan gabah bersama petani di sini. Bukan cuma anak-anak saya saja sih, hampir semua anak-anak di sini selalu bermain di sawah. Ada saja yang mereka lakukan, mulai dari lari-lari, main layangan, gobak sodor sampai bantu menghalau burung juga dilakukan. Seru sih! Tidak pernah saya bayangkan memang anak saya bermain seperti itu.

Bukan hanya itu saja, karena dekat dengan laut jadi anak-anak kalau mau ya ke pantai. Berenang, main pasir sambil hanya jalan-jalan saja juga iya. 

Menjaga Hutan Bakau yang Kurang Lestari


Karena di pantai, di sini jarang sekali ada hutan lindung. Banyaknya hutan bakau, walau begitu tetap saja harus dijaga. Kalau hutan bakau tidak dirawat yang ada air akan naik dan menghempas rumah-rumah sekitar dan masuk ke desa. Hutan bakau sangat bermanfaat bukan hanya untuk kelestarian alam dan melindungi desa dari bencana banjir. Namun juga bermanfaat untuk ekosistem dan keseimbangan alam. 

Bayangkan kalau tidak ada hutan bakau? Yang ada semua akan susah, mulai nelayan, masyarakat sekitar dan tentunya hewan di daerah pantai. Lucunya, kadang dari kita sendiri tidak awas. Padahal Indonesia memiliki 23 persen hutan bakau atau mangrove dunia. Peta Mangrove Nasional yang resmi dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021, diketahui bahwa total luas mangrove Indonesia seluas 3.364.076 Ha. Dengan  Papua yang memiliki ekosistem mangrove terluas di Indonesia dengan luas 1,63 juta ha. Disusul Sumatra di peringkat kedua dengan luas 892.835 ha. Kemudian Kalimantan berada di peringkat ketiga dengan luas ekosistem 630.913 ha.

Hutan bakau memang lebih sulit perawatannya, karena berurusan dengan air laut yang pasti letaknya di pinggir laut. Jadi memerlukan effort tersendiri. Padahal hutan bakau sering mendapat masalah sampah, mulai dari wisatawan yang membuat sampah ke laut atau orang yang membuat sampah ke sungai yang nantinya bermuara ke laut. Banyak, banyak banget malah. Mungkin karena memang keindahan yang kurang dilirik sehingga kurang dilestarikan

3 Cara Mengajarkan Anak Menjaga Kelestarian Hutan Bakau


Memang banyak cara agar menjaga hutan bakau. Kalau di desa saya caranya adalah dengan menggelar acara Tabuh Laut sebulan sekali. Selain untuk mendoakan laut selalu asri, gelaran ini juga untuk membuat warga desa bersih-bersih laut. Jadi sebelum upacara syukuran ada acara bersih-bersih pantai dan tentu hutan bakau yang ada di sana. Tidak hanya warga yang ikutan tapi juga banyak LSM yang peduli hutan bakau ikutan juga.

Karena merupakan acara rutin, Tabuh Laut ini juga untuk mengingatkan kami kalau laut, hutan dan ekosistem di dalamnya selalu menjaga keberadaan kami yang tinggal di tepi pantai. Tanpa mereka pasti kehidupan masyarakat desa laut tidak akan begitu lancar. Mulai nelayan, peternak, pedagang, pengrajin hingga semua selalu bisa hidup berkat laut dan hutan bakaunya.

Anak-anak gimana saat tabuh laut berlangsung? Senang dong pastinya! Mereka ikutan bantu bersihkan sampah sampai mengikuti upacara tabuh laut selesai. Kadang anak-anak sd dan TK juga datang perwakilan sekolah ikutan.

Ini cara saya agar anak ikutan menjaga kelestarian hutan bakau!

1. Tidak membuang sampah sembarangan

Terlihat sepele, tapi untuk melestarikan memang harus seperti ini cara paling gampangnya. Karena hal yang sangat banyak di laut dan hutan bakau adalah sampah. Tidak sedikit, tapi banyak.

2. Ikutan aktif membersihkan laut dan hutan bakau

Sebagai masyarakat pesisir, wajib banget ikutan bersih laut yang dilaksanakan sebulan sekali. Jangan sampai tidak ikutan. Karena cuma sehari bersama-sama membersihkan laut dan hutan jadi lebih indah.

3. Melakukan pembibitan dikelola dari sekolah

Pohon bakau yang mulai berkurang harus mulai ditanami kembali. Biasanya ada program rutin dari sekolah untuk penanaman bibit hutan bakau.

Tapi semua menjaga kelestarian hutan bakau ini tidak bisa sendiri, harus ada sinergi dari masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama. Memang terhambat, tapi tetap berjalan lancar. Karena kalau bukan kita siapa lagi?

Dengarkan Alam Bernyanyi Bersama Anak

Dengerin deh lagu ini!


Mendengarkan lagu ini bersama anak sangat terasa menyenangkan. Lagu yang tersedia di Youtube, Spotify dan Apple Music ini terngiang-ngiang di telinga. Dan akan cepat meresap ke otak anak untuk ikut serta menjaga kelestarian alam termasuk hutan bakau yang ada di dekat tempat tinggal kami.

Oh iya, coba deh dengarkan lagu tadi, karena kalau semakin banyak yang denger maka royalti untuk perlindungan hutan Indonesia akan semakin besar. Yuk kita lakukan #UntukmuBumiku #IndonesiaBikinBangga #TeamUpforImpact #DengarAlamBernyanyi #HutanKitaSultan demi keindahan hutan di Indonesia.

Anak bisa, kita pun bisa! Pasti nanti anakku akan selalu berkata riang, "Ma, Dengarkan Alam Bernyanyi Deh! Hutan Bakau Bersuara Merdu".

Komentar